MAKNA LOGO HME

HME merupakan singkatan dari himpunan mahasiswa Elektro sebagai wadah penampung aspirasi mahasiswa teknik Elektro Politeknik Negeri Padang

Tiga buah lingkaran pada HME merupakan tiga hima program studi yang membantu dan berkoordinasi dengan himaElektro Politeknik Negeri Padang, yakninya Wamakom, Pormhanika, Forkomatrik.

MAKNA LOGO HME

Pada logo HME terdapat beberapa makna dan arti tersendiri yang terkandung di setiap unsur dan warna pada logo HME di antaranya sebagai berikut :

1. BINTANG

Bintang

Makna dari unsur bintang yang terdapat pada logo HME yaitu Bintang yang berarti cita-cita HME yang ingin menciptakan kader-kader bangsa yang berprestasi.

2. TOGA & KERTAS

Toga & Kertas

Makna dari unsur yang kedua Toga dan Kertas yang di ikat dengan pita yaitu merupakan suatu perwujudan yang menunjukkan mahasiswa yang intelektual dan berprestasi.

3. TIGA BUAH LINGKARAN

Tiga Buah Lingkaran

Selanjutnya makna yang terkandung pada tiga buah lingkaran berwarna merah yang mengitari tulisan HME pada logo, memiliki arti dan makna sebagai perwujudan terhadap tiga hima program studi yang membantu dan berkoordinasi dengan himaElektro Politeknik Negeri Padang, yakninya Wamakom, Pormhanika, Forkomatrik.

4. ELIPS

Elips

Makna dari unsur selajutnya adalah Elips yang melingkar di antara Tulisan HME memiliki makna tersendiri yaitu sebagi perwujudan yang menunjukkan suatu ikatan dari mahasiswa Elektro yang diikat dalam satu organisasi mahasiswa yakni himpunan mahasiswa Elektro.

5. Warna merah

Warna Merah

Makna selanjutnya adalah warna merah yang terdapat pada bagian dalam tulisan HME pada logo. Yang memiliki makna dan arti tersendiri, yaitu suatu perwujudan yang menunjukkan ciri khas tersendiri dari jurusan teknik Elektro Politeknik Negeri Padang. Yang nama dapat dilihat dari warna baju dan attribut lainnya di juluran teknik elektro.

6. WARNA KUNING

Warna Kuling

Selanjutnya yaitu makna dari warna kuning pada bagian luar Tulisan HME pada logo, yang memiliki makna dan arti sebagai suatu perwujudan yang menunjukkan bahwa hima elektro akan terus bersinar dan memberikan yang terbaik untuk mahasiswa elektro, jurusan elektro serta Politeknik Negeri Padang.

Itulah beberapa makana dan arti yang terkandung dari setiap unsur dan warna yang terdapat di dalam logo HME Politeknik Negeri Padang.

Makna Logo HME Secara Visual

Tachometer

Tachometer adalah merupakaan sebuah alat atau instrumen yang dapat mengukur kecepatan putaran dari piringan atau poros engkol, Contohnya seperti yang ada pada sebuah motor atau mesin yang lainnya.

Alat tachometer ini biasanya menampilkan revolutions per menit (RPM) dalam sebuah pengukur skala analog, tetapi yang terbaru versi tampilan digital juga sudah tersedia. Dalam aplikasi atau penerapan kendaraan bermotor, pemasangan tachometer dengan tujuan agar pengendara bisa memakai mesin secara efsien.

Tachometer yang berada pada mobil, pesawat terbang dan kendaraan-kendaraan lainnya biasanya menunjukan tingkat rotasi/perputaran yang terjadi pada poros engkol mesin, dan secara tipikal sudah menunjukkan indikasi jangkauan keselamatan dari perputaran mesin Hal ini mampu menolong pengemudi dalam menyeleksi akselerasi yang sesuai dan pengaturan perputaran mesin untuk segala macam kondisi pengendaraan.

Tachometer akan memberikan sebuah peringatan kepada pengemudi jika tingkat putaran mesin berada pada tahap “maksimum”. Tachometer dikendalikan oleh putaran kabel dari sebuah unit pengendali yang dihubungkan kedalam mesin (biasanya pada poros engkol).

Pada sistem manajemen mesin yang umumnya ada pada kendaraan-kendaraan moderen, sinyal untuk tachometer biasanya dihasilkan dari sebuah mesin ECU yang menghantarkan informasi dari sensor kecepatan putaran yang terjadi pada poros engkol.

Fungsi Tachometer

Fungsi dari Tachometer adalah digunakan untuk mengukur putaran pada sebuah mesin, khususnya jumlah putaran yang sedang dilakukan oleh sebuah poros dalam satuan waktu dan ini biasanya dipakai untuk peralatan kendaraan bermotor. Biasanya mempunyai layar yang menunjukkan kecepatan putaran per menitnya.

Teori Dasar Tachometer

Salah satu parameter yang paling sering di monitor pada sebuah mesin adalah RPM (Rasio Per Menit) yaitu jumlah putaran yang terjadi dalam satu menit, misal seperti pada elektro motor, pompa, mixer dll.

Ada beberapa macam cara untuk mengukur kecepatan putar pada suatu sistem secara continue, misalnya dengan magnetik pick-up atau tacho-generator dan yang paling sederhana yaitu dengan memakai proximityswitch dan pulsa meter.

RPM = f X aRPM = f X 60/N

Dimana :

RPM : Kecepatan putaran (RPM)

F : Frekuensi pulsa (Hz)

N : Jumlah pulsa dalam satu putaran

a : Nilai skala yang terdiri dari mantisa dan exponent.

Contohnya seperti dalam satu putaran terdapat 8 pulsa, maka nilai skalanya yaitu: a = 60 / = 7.5 = 0.75 X 101 = mantisa 0.75 dan eksponen 10.

Jenis Tachometer

mp-01

Tachometer kontak Pulsa (Rate Meter) terdapat berbagai merk dan type, untuk kali ini memakai MP5W Series dari Autonics. Pada unit ini memiliki banyak fungsi yang salah satunya yaitu untuk pengukuran RPM (mode F1). Kemudian memiliki dua input (IN A dan IN B), banyak pilihan tipe mulai sebagai indikator dan sebagai kontroller dengan berbagai bermacam output.

Tampilan terdiri dari 5 digit dan dilengkapi dengan keypad input pemrograman. Sedangkan sensor yang dipakai yaitu sebuah proximity sensor PR30-10DN dengan spesifkasi supply 12 ~ 24 VDC, output NPN. Dan jarak sensing 10 mm (pernah di coba hingga 4500 RPM dan masih stabill.

mp-02

Untuk pemasangan sensor pada unit tampilan (display), kabel supply dihubungkan menuju ke terminal 6 dan 7 (perhatikan polaritasnya) dan untuk output sensor pada terminal 1 (IN A), sedangkan IN B di ambangkan saja.

Power supply MP5 diterminal 8 dan 9. Bila memakai pilihan output sambungkan sesuai dengan type outputnya.

mp-03

Struktur program MP5 series memiliki 4 parameter grup yang terpisah. Paramenter grup 0 hingga parameter grup 3. Namun untuk aplikasi (penerapan) tachometer hanya dibutuhkan beberapa setting parameter. Yang penting untuk diketahui yaitu untuk berpindah ke tiap-tiap parameter yaitu dengan menekan tombol “MD” selama beberapa detik.

Apabila MP5 dipakai sebagai controller, setting level output berada dalam parameter grup 0.

Ada 4 level output yaitu HL, H, L, LL TETAPI ini untuk seri controller. Sedangkan pada aplikasi display tidak dibutuhkan dan bisa langsung ke parameter 1 dengan menekan MD selama 3 detik. Pada parameter grup 1 setting node di F1 (frekuensi), In-A (jenis output sensor: NPN) set ke nPnhF dan Auto.A (autozero time) ke 10.

Selanjutnya parameter grup 2 dengan cara menekan MD selama kurang lebih 4 detik. Bila MP5 hanya indikator setting dilakukan pada PSC.AH (nilai mantisanilai default adalah 6), PCS.AY (eksponen dengan default 10^1) dan dISP.t (siklusdisplay, sebaiknya diisi 1 agar tidak terlihat berkedip).

Sedangkan untuk kontroller dibutuhkan setting batas atas dan batas bawah. Nilai skala dan mantisa harus dihitung sesuai dengan jumlah pulsa per putarannya. Sebenarnya mode F1 adalah fungsi pembacaan frekuensi (pulsa per detik dengan satuan Hz). Apabila dipakai untuk pembacaan RPM (Rotation Per Minute) maka harus dikalikan 60 (1 menit sama dengan 60 detik).

Tachometer non-kontak

Pada dasarnya Tachometer Non-kontak ini sama kerjanya/fungsinya dengan Tachometer biasa yang banyak dipakai untuk mengetahui kecepatan Suatu putaran motor hanya saja berbeda sedikit ketika Tachometer ini di hubungkan dengan personal komputer.

Dengan dikoneksikan ke personal komputer kita akan bisa mengetahui nilai error dan grafik dari kecepatan motor tersebut. Alat yang lebih canggih dan aman untuk mengukur kecepatan adalah alat tanpa kontak langsung, misalnya seperti tachometer non-kontak.

Tachometer non-kontak memakai sumber sinar cahaya yang bisa disinkronisasi dengan setiap kecepatan dan pengulangan gerakan sehingga benda yang berpindah sangat cepat akan terlihat tidak bergerak atau hanya berpindah perlahan.

Contoh untuk menggambarkan prinsip ini: Diasumsikan sebuah disket putih dengan titik hitam yang terdapat pada as dari motor 1800 rpm. Apabila disket berputar pada 1800 rpm; maka tidak mungkin untuk mata orang dapat melihat gambaran tunggal dengan pasti dan pada titik hanya akan terlihat seperti lingkaran kabur.

Apabila diterangi dengan sinar cahaya tachometer non-kontak, disinkronkan pada cahaya untuk setiap putaran disket (jika titik berada pada jam tiga) Misalnya; titik akan terlihat pada posisi ini – dan hanya pada posisi ini – pada kecepatan 1800 kali untuk setiap menit.

Oleh sebab itu, titik akan terlihat membeku atau berdiri diam, bila laju sinar dari tachometer non-kontak diperlambat menjadi 1799 sinar per menit. Pada titik akan teriluminasi pada posisi cahaya yang berbeda, setiap kali piringan berputar, dan titik akan terlihat berpindah.

Perlahan dalam arah putaran 380Β° dan tiba pada posisi sebenarnya 1 menit kemudian. Perpindahan yang sama, namun di arah yang berlawanan rotasi dari titik, akan diobservasi bila laju sinar dari tachometer non-kontak ditingkatkan menjadi 1801 fpm.

Apabila diinginkan, laju perpindahan yang terlihat bisa dipercepat dengan meningkatkan atau menurunkan laju sinar pada tachometer non-kontak. Apabila tayangan dihentikan, laju sinar strobo setara dengan kecepatan perpindahan obyek. Karena laju sinar diketahui, maka kecepatan obyek juga akan diketahui.

Oleh sebab itu tachometer non-kontak memiliki dua tujuan yaitu mengukur kecepatan dan pengamatan penurunan yang terlihat pada kecepatan yang semakin perlahan atau pemberhentian gerakan cepat.

Hal yang cukup berarti dari efek gerakan lambat yaitu karena gerakan ini merupakan copy (salinan) yang tepat dari gerakan kecepatan tinggi, maka semua ketidak teraturan (getaran, torsi, suara-suara, loncatan) yang ada pada gerakan kecepatan tinggi bisa dipelajari. Untuk studi audit pada umumnya dipakai jenis kontak tachometer karena pada alat tersebut sudah siap tersedia.

Cara Kerja Tachometer

Pada jenis tachometer kontak, roda tachometer dikontakkan dengan badan yang berputar. Karena adanya gesekan yang terjadi diantara keduanya, setelah beberapa detik kecepatan roda tachometer akan sama dengan kecepatan badan berputar.

Kecepatan ini ditunjukkan pada panel sebagai putaran per menit (rpm). Tachometer non-kontak digital yaitu menggunakan sumber cahaya yang dipakai untuk mengukur kecepatan obyek/benda yang bergerak cepat atau untuk menghasilkan efek optik menghentikan atau memperlambat gerakan kecepatan tinggi untuk kebutuhan pengamatan, analisis atau fotografi.

Prinsip kerjanya yaitu dengan menghitung jarak tempuh roda bagian belakang (keliling roda belakang) dikali putaran roda belakang yang berhubungan dengan putaran mesin. Berikut ini adalah cara menghitung kecepatan sepeda motor menggunakan tachometer;

Pertama ukur keliling tapak roda belakang (tidak masalah walaupun ban sudah aus atau ganti ukuran).

Kedua posisikan pentil tepat pada jam 6 dan beri tanda ke-1 di lantai/jalan, lalu dorong sepeda motor hingga posisi pentil kembali ke posisi tepat jam 6 dan beri tanda ke-2

Dan ketiga ukur jarak antara tanda ke-1 dan ke-2; satuanya memakai cm kemudian konversi ke kilometer. Misalnya didapat jarak antara tanda ke-1 dan ke-2 (keliling roda) yaitu = 180 cm = 0,00180 cm.

Hitung Rasio Putaran pada Mesin dan Putaran Roda Belakang / Total Reduction Ratio (karena pada putaran roda belakang tidak secepat putaran pada mesin).

Z2/Z1 Primary Reduction yaitu merupakan Gigi pada crankshaft dengan gigi pada rumah kopling.

Z4/Z3 Transmission Gear yaitu merupakan Pilih perbandingan posisi gigi tertinggi untuk menghitung top speed.

Z6/Z5 Secondary Reduction yaitu merupakan jumlah mata/gigi Sprocket belakang dibagi dengan sprocket depan.

Zx = x, angka ganjil = poros pemutar, angka genap = poros diputar

Contoh:

Dalam putaran mesin yang dibaca oleh tachometer = 10.500 rpm = 630.000 putaran per jam (10.500 x 60menit)

Keliling roda belakang = 180 cm = 0.00180 Km

TRR = 8,497

Primary Reduction = 72/22

Transmission Gear = 19/22 (top gear, gigi ke 6 Secondary Reduction = 42/14

Jadi untuk puataran awal dimesin yaitu 630.000 putaran per jam tinggal menjadi 74.298.246 putaran di roda per jam (630.000 / 8.497).

Kemudian tinggal dikalikan dengan keliling pada roda belakang: 74.298.246  x 0.00180 = 133.737 km/jam

Pencegahan dan Keselamatan Pengukuran

Pencegahan sebagai berikut harus dilakukan saat memakai alat tachometer dan stroboscope harus tetap hati-hati ketika membawa roda tachometer yang dikontak dengan badan berputar.

Untuk keselamatan, jangan pernah melepas pakaian ketika pengukuran dengan tachometer berlangsung. Hindari bekerja sendiri saat melakukan pengukuran. Periksa cara kerja operasi dari peralatan pemantauan dan instruksi yang lebih rinci, untuk pencegahan dan keselamatan sebelum memakai peralatan.

Semoga infonya bermanfaat ya πŸ™‚

DIODA

Dioda (Diode) adalah Komponen Elektronika Aktif yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai fungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Oleh karena itu, Dioda sering dipergunakan sebagai penyearah dalam Rangkaian Elektronika. Dioda pada umumnya mempunyai 2 Elektroda (terminal) yaitu Anoda (+) dan Katoda (-) dan memiliki prinsip kerja yang berdasarkan teknologi pertemuan p-n semikonduktor yaitu dapat mengalirkan arus dari sisi tipe-p (Anoda) menuju ke sisi tipe-n (Katoda) tetapi tidak dapat mengalirkan arus ke arah sebaliknya.

Fungsi Dioda and Jenis-jenisnya

Berdasarkan Fungsi Dioda, Dioda dapat dibagi menjadi beberapa Jenis, diantaranya adalah :

  • Dioda Penyearah (Dioda Biasa atau Dioda Bridge) yang berfungsi sebagai penyearah arus AC ke arus DC.
  • Dioda Zener yang berfungsi sebagai pengaman rangkaian dan juga sebagai penstabil tegangan.
  • Dioda LED yang berfungsi sebagai lampu Indikator ataupun lampu penerangan
  • Dioda Photo yang berfungsi sebagai sensor cahaya
  • Dioda Schottky yang berfungsi sebagai Pengendali

Prinsip Kerja Dioda

Untuk dapat memperjelas prinsip kerja Dioda dalam menghantarkan dan menghambat aliran arus listrik, dibawah ini adalah rangkaian dasar contoh pemasangan dan penggunaan Dioda dalam sebuah rangkaian Elektronika.

Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter

Untuk mengetahui apakah sebuah Dioda dapat bekerja dengan baik sesuai dengan fungsinya, maka diperlukan pengukuran terhadap Dioda tersebut dengan menggunakan Multimeter (AVO Meter).

Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Analog

  1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ξ©) x1k atau x100
  2. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Katoda (tanda gelang)
  3. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Anoda.
  4. Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
  5. Jarum pada Display Multimeter harus bergerak ke kanan
  6. Balikan Probe Merah ke Terminal Anoda dan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang).
  7. Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
  8. Jarum harus tidak bergerak.
    **Jika Jarum bergerak, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah rusak.

Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Digital

Pada umumnya Multimeter Digital menyediakan pengukuran untuk Fungsi Dioda, Jika tidak ada, maka kita juga dapat mengukur Dioda dengan Fungsi Ohm pada Multimeter Digital.

Cara Mengukur Dioda dengan menggunakan Multimeter Digital
(Fungsi Ohm / Ohmmeter)

  1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ξ©)
  2. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang)
  3. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Anoda.
  4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
  5. Display harus menunjukan nilai tertentu (Misalnya 0.64MOhm)
  6. Balikan Probe Hitam ke Terminal Anoda dan Probe Merah ke Katoda
  7. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
  8. Nilai Resistansinya adalah Infinity (tak terhingga) atau Open Circuit.
    **Jika terdapat Nilai tertentu, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah Rusak.

Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Digital
(Menggunakan Fungsi Dioda)

  1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi Dioda
  2. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang)
  3. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Anoda.
  4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
  5. Display harus menunjukan nilai tertentu (Misalnya 0.42 V)
  6. Balikan Probe Hitam ke Terminal Anoda dan Probe Merah ke Katoda
  7. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
  8. Tidak terdapat nilai tegangan pada Display Multimeter.
    **Jika terdapat Nilai tertentu, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah Rusak.

Semoga infonya bermanfaat ya πŸ™‚

Power Supply

Power Supply adalah perangkat keras yang berfungsi untuk menyuplai tegangan langsung kekomponen dalam casing yang membutuhkan tegangan, misalnya motherboard, hardisk, kipas, dll. Input power supply berupa arus bolak-balik (AC) sehingga power supply harus mengubah tegangan AC menjadi DC (arus searah), karena hardware komputer hanya dapat beroperasi dengan arus DC. Power supply berupa kotak yang umumnya diletakan dibagian belakang atas casing.

CARA KERJA POWER SUPPLY

Ketika kita menekan tombol power pada casing, yang terjadi adalah langkah berikut.Power supply akan melakukan cek dan tes sebelum membiarkan sistem start. Jika tes telah sukses, power supply mengirim sinyal khusus pada motherboard, yang disebut power good

FUNGSI POWER SUPPLY

1. Fungsi Power Supply Pada Komputer.

   Fungsi Power Supply pada komputer adalah sebagai perangkat keras yang memberikan atau menyuplai arus listrik yang sebelumnya diubah dari bentuk arus listrik yang berlawanan atau AC, menjadi arus listrik yang searah atau biasa disebut sebagai arus DC. Power supply menyuplai arus listrik DC yang dibutuhkan oleh perangkat keras di dalam komputer beberapa contoh hardware yang membutuhkan arus listrik DC adalah harddisk, fan, motherboard dan lain-lain. Power supply juga memiliki kenektor kabel yang masing-masing konektor kabel tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda yang sangat dibutuhkan oleh komputer pada saat ini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa power supply merupakan perangkat keras yang sangat penting dalam mengoperasikan suatu komputer.

2. Fungsi Power Supply berdasarkan beberapa jenis konektor 

Power supply memiliki banyak konektor. Dan masing-masing dari konektor memiliki fungsi yang berbeda. Walaupun sebagian kabel memiliki tegangan listrik yang sama, tetapi setiap konektor sudah dikelompokkan berdasarkan fungsinya. Untuk pengenalan, disini ada beberapa tipe konektor dan fungsinya pada komputer yaitu:

a. ATX power connector (20pin + 4pin) :

ATX 20/24 pin konektor digunakan untuk menghubungkan power supply unit (PSU) ke motherboard. Versi lama dari ATX motherboard masih menggunakan ATX 20 pin konektor, jika kita menggunakan motherboard yang terbaru sudah membutuhkan ATX 24 pin konektor. Konetktor ini terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama berjumlah 20 pin dan bagian kedua 4 pin. Jika kita menggunakan motherboard yang baru maka gabungkan antara 20 + 4 pin konektornya.

b. AT power connector (12 pin) :

Konektor ini digunakan untuk motherboard kelas Pentium II kebawah. Konektor yang memiliki 12 kabel ini dikelompokkan terpisah menjadi 2 bagian. Bagian pertama disebut Konektor P8 dan bagian kedua disebut P9. Masing-masing konektor memiliki 6 kabel. Untuk menghindari kesalahan dalam pemasangan, kita cukup mempertemukan konektor yang memiliki kabel hitam di tengah-tengah.

c. Molex connector :

Konektor ini digunakan sumber tenaga bagi harddisk dan cd drive. Kadang sebagian produsen juga membuat fan / kipas pendingin, lampu-lampu dan asesoris lainnya menggunakan konektor ini. Konektor ini memiliki 4 kabel yang berbeda warna, yaitu Merah, Hitan dan Kuning. Setiap warna memiliki sumber tegangan yang berbeda-beda pula.

c. Molex connector :

Konektor ini digunakan sumber tenaga bagi harddisk dan cd drive. Kadang sebagian produsen juga membuat fan / kipas pendingin, lampu-lampu dan asesoris lainnya menggunakan konektor ini. Konektor ini memiliki 4 kabel yang berbeda warna, yaitu Merah, Hitan dan Kuning. Setiap warna memiliki sumber tegangan yang berbeda-beda pula.

e. ATX 12V (Intel) 4 pin connector :

Konektor ini kebanyakan dipakai oleh para pengguna yang menggunakan Processor buatan Intel. Fungsi dari konektor ini adalah sebagai penyedia tenaga tambahan sebesar 12 V untuk Pentium 4 CPU. Jadi pada Pentium 4 kebawah, konektor ini tidak perlu digunakan. Sekarang sebagian AMD motherboard juga sudah menggunakan konektor ATX 12V ini.

f. pin PCI-E connector :

Konektor yang satu ini memang jarang ditemukan untuk semua PC. Biasanya orang yang menggunakan PSU ini adalah orang yang bekerja di bidang Multimedia khususnya Video. Karena konektor ini hanya digunakan sebagai penambah daya untuk video card yang menggunakan slot PCI Express. Jika kita menggunakan Videoa Card jenis ini, tentu saja kita harus memiliki PSU yang mendukung untuk konektor ini.

g. SATA Power connector :

Konektor ini merupakan jenis terbaru yang biasa digunakan untuk power pada Hard Disk SATA (serial ATA). Konektor ini disambungkan melalui Molek konektor (extended).

JENIS-JENIS POWER SUPPLY

Jenis-Jenis Power Supply yang terdapat pada kebanyakan komputer sekarang ini terbagi menjadi dua jenis. Kedua jenis power supply tersebut adalah Power Supply AT dan Power Supply ATX. Dari kedua jenis power supply tersebut memiliki beberapa perbedaan dan fungsinya.

1. Power Supply AT

Power Supply AT merupakan jenis power supply yang tergolong lawas. Pada masa kejayaannya, power supply jenis ini banyak digunakan oleh komputer Pentium II dan juga Pentium III. Meskipun kini sangat jarang ditemui, namun Power Supply AT sesungguhnya memiliki berbagai kelebihan. Power supply jenis ini memiliki kabel power yang terhubung ke motherboard yang terbagi menjadi dua, yaitu konektor P8 dan P9. Resiko kesalahan pemasangan dengan menggunakan power supply jenis ini pun sangat sedikit, mengingat untuk pemasangannya dibutuhkan ketelitian tinggi. Kesalahan yang biasa terjadi saat pemasangan power supply adalah terbalik mengingat terdapat dua konektor penghubung. Untuk pemasangan yang benar anda harus memperhatikan kabel power warna hitam pada masing-masing konektor. Pasangkan tepat pada tengah-tegah sambungan untuk menghindari konsleting. Untuk mematikan Power Supply AT, anda harus menekan tombol power secara langsung mengingat power supply jenis ini terhubung secara langsung ke chasing computer.

2. Power Supply ATX.

Power supply jenis ini memiliki tampilan yang lebih simpel dibandingkan power supply sebelumnya. Untuk jenis power supply satu ini kabel konektor dengan motherboard sudah menjadi satu dengan jumlah total 20 PIN. Oleh karena itu, Power Supply ATX sering juga disebut dengan ATX 20 PIN. Untuk pemasangannya sendiri, power supply jenis ini tergolong sangat mudah. Hal tersebut mengingat jika terjadi kesalahan dalam pemasangan maka port pada motherboard dengan konektor tidak akan menyatu. Hindari pemaksaan saat pemasangan karena dapat menebabkan kerusakan baik pada port maupun pada konektor.

Kelebihan dari Power Supply ATX dibandingkan dengan AT adalah pada tombol powernya. Untuk ATX 20 PIN sendiri sudah dilengkapi dengan auto shutdown yang berfungsi mematikan power supply ketika computer dimatikan. Sehingga kita tidak perlu susah payah untuk menekan tombol power seperti pada Power Supply AT. Dari jenis-jeins power supply diatas, Power Supply ATX menjadi primadona untuk power supply saat ini. Hal tersebut terbSukti dari banyaknya pengguna komputer yang memilih untuk menggunakan power supply yang satu ini.

Semoga infonya bermanfaat ya πŸ™‚

RESISTOR

Ini nih salah satu komponen yang sangat penting di dunia elektro. Apalagi kalau bukan si kecil resistor.

Resistor adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk menghambat atau membatasi aliran listrik yang mengalir dalam suatu rangkain elektronika. Sebagaimana fungsi resistor yang sesuai namanya bersifat resistif dan termasuk salah satu komponen elektronika dalam kategori komponen pasif. Satuan atau nilai resistansi suatu resistor di sebut Ohm dan dilambangkan dengan simbol Omega (Ξ©). Sesuai hukum Ohm bahwa resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir melaluinya. Selain nilai resistansinya (Ohm) resistor juga memiliki nilai yang lain seperti nilai toleransi dan kapasitas daya yang mampu dilewatkannya. Semua nilai yang berkaitan dengan resistor tersebut penting untuk diketahui dalam perancangan suatu rangkaian elektronika oleh karena itu pabrikan resistor selalu mencantumkan dalam kemasan resistor tersebut.

Simbol resistor

Berikut adalah simbol resistor dalam bentukgambar ynag sering digunakan dalam suatu desain rangkaian elektronika

Resistor dalam suatu teori dan penulisan formula yang berhubungan dengan resistor disimbolkan dengan huruf β€œR”. Kemudian pada desain skema elektronika resistor tetap disimbolkan dengan huruf β€œR”, resistor variabel disimbolkan dengan huruf β€œVR” dan untuk resistorjenis potensiometer ada yang disimbolkan dengan huruf β€œVR” dan β€œPOT”.

Kapasitas Daya Resistor

Kapasitas daya pada resistor merupakan nilai daya maksimum yang mampu dilewatkan oleh resistor tersebut. Nilai kapasitas daya resistor ini dapat dikenali dari ukuran fisik resistor dan tulisan kapasitas daya dalamsatuan Watt untuk resistor dengan kemasan fisik besar. Menentukan kapasitas daya resistor ini penting dilakukan untuk menghindari resistor rusak karena terjadi kelebihan daya yang mengalir sehingga resistor terbakar dan sebagai bentuk efisiensi biaya dan tempat dalam pembuatan rangkaian elektronika.

Nilai Toleransi Resistor

Toleransi resistor merupakan perubahan nilai resistansi dari nilai yang tercantum pada badan resistor yang masih diperbolehkan dan dinyatakan resistor dalam kondisi baik. Toleransi resistor merupakan salah satu perubahan karakteristik resistor yang terjadi akibat operasional resistor tersebut. Nilai torleransi resistor ini ada beberapa macam yaitu resistor dengan toleransi kerusakan 1% (resistor 1%), resistor dengan toleransi kesalahan 2% (resistor2%), resistor dengan toleransi kesalahan 5% (resistor 5%) dan resistor dengan toleransi 10% (resistor 10%).

Nilai toleransi resistor ini selalu dicantumkan di kemasan resistor dengan kode warna maupun kode huruf. Sebagai contoh resistor dengan toleransi 5% maka dituliskan dengan kode warna pada cincin ke 4 warna emas atau dengan kode huruf J pada resistor dengan fisik kemasan besar. Resistor yang banyak dijual dipasaran pada umumnya resistor 5% dan resistor 1%.

Jenis-Jenis Resistor

Berdasarkan jenis dan bahan yang digunakan untuk membuat resistor dibedakan menjadi resistor kawat, resistor arang dan resistor oksida logam atau resistor metal film.

  1. Resistor Kawat (Wirewound Resistor)
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA

Resistor kawat atau wirewound resistor merupakan resistor yang dibuat dengan bahat kawat yang dililitkan. Sehingga nilai resistansiresistor ditentukan dari panjangnya kawat yang dililitkan. Resistor jenis ini pada umumnya dibuat dengan kapasitas daya yang besar.

  1. Resistor Arang (Carbon Resistor)

Resistor arang atau resistor karbon merupakan resistor yang dibuat dengan bahan utama batang arang atau karbon. Resistor karbon ini merupakan resistor yang banyak digunakan dan banyak diperjual belikan. Dipasaran resistor jenis ini dapat kita jumpai dengan kapasitas daya 1/16 Watt, 1/8 Watt, 1/4 Watt, 1/2 Watt, 1 Watt, 2 Watt dan 3 Watt.

  1. Resistor Oksida Logam (Metal Film Resistor)

Resistor oksida logam atau lebih dikenal dengan nama resistor metal film merupakan resistor yang dibuah dengan bahan utama oksida logam yang memiliki karakteristik lebih baik. Resistor metal film ini dapat ditemui dengan nilai tolerasni 1% dan 2%. Bentuk fisik resistor metal film ini mirip denganresistor kabon hanya beda warna dan jumlah cicin warna yang digunakan dalam penilaian resistor tersebut. Sama seperti resistorkarbon, resistor metal film ini juga diproduksi dalam beberapa kapasitas daya yaitu 1/8 Watt, 1/4 Watt, 1/2 Watt. Resistor metal film ini banyak digunakan untuk keperluan pengukuran, perangkat industri dan perangkat militer.

Kemudian berdasarkan nilai resistansinya resistor dibedakan menjadi 2 jenis yaitu resistor tetap (Fixed Resistor) dan resistor tidak tetap (Variable Resistor)

  1. Resistor Tetap(Fixed Resistor)

Resistor tetap merupakan resistor yang nilai resistansinya tidap dapat diubah atau tetap. Resistor jenis ini biasa digunakan dalam rangkaian elektronika sebagai pembatas arus dalam suatu rangkaian elektronika. Resistor tetap dapat kita temui dalam beberpa jenis, seperti :

  • Metal Film Resistor
  • Metal Oxide Resistor
  • Carbon Film Resistor
  • Ceramic Encased Wirewound
  • Economy Wirewound
  • Zero Ohm Jumper Wire
  • S I P Resistor Network
  1. Resistor Tidak Tetap (Variable Resistor)

Resistor tidak tetap atau variable resistor terdiridari 2 tipe yaitu :

  • Pontensiometer, tipe variable resistor yang dapat diatur nilai resistansinya secara langsung karena telah dilengkapi dengan tuas kontrol. Potensiometer terdiri dari 2 jenis yaitu Potensiometer Linier dan Potensiometer Logaritmis
  • Trimer Potensiometer, yaitu tipe variable resistor yang membutuhkan alat bantu (obeng) dalam mengatur nilai resistansinya. Pada umumnya resistor jenis ini disebut dengan istilah β€œTrimer Potensiometer atau VR”
  • Thermistor, yaitu tipe resistor variable yangnilairesistansinya akan berubah mengikuti suhu disekitar resistor. Thermistor terdiri dari 2 jenis yaitu NTC dan PTC. Untuk lebih detilnya thermistor akan dibahas dalam artikel yang lain.
  • LDR (Light Depending Resistor), yaitu tipe resistor variabel yang nilai resistansinya akan berubah mengikuti cahaya yang diterima oleh LDR tersebut.

Jenis-jenis resistor tetap dan variable diatas akan dibahas lebih detil dalam artikel yang lain.

Menghitung Nilai Resistor

Nilai resistor dapat diketahui dengan kode warna dan kode huruf pada resistor. Resistor dengan nilai resistansi ditentukan dengan kode warna dapat ditemukan pada resistor tetap dengan kapasitas daya rendah, sedangkan nilai resistor yang ditentukan dengan kode huruf dapat ditemui pada resistor tetap daaya besar dan resistor variable.

Kode Warna Resistor

Cicin warna yang terdapat pada resistor terdiri dari 4 ring 5 dan 6 ring warna. Dari cicin warna yang terdapat dari suatu resistor tersebut memiliki arti dan nilai dimana nilai resistansi resistor dengan kode warna yaitu :

  1. Resistor Dengan 4 Cincin Kode Warna

Maka cincin ke 1 dan ke 2 merupakan digit angka, dan cincin kode warna ke 3 merupakan faktor pengali kemudian cincin kode warnake 4 menunjukan nilai toleransi resistor.

  1. Resistor Dengan 5 Cincin Kode Warna

Maka cincin ke 1, ke 2 dan ke 3 merupakan digit angka, dan cincin kode warna ke 4 merupakan faktor pengali kemudian cincin kode warna ke 5 menunjukan nilai toleransi resistor.

  1. Resistor Dengan 6 Cincin Warna

Resistor dengan 6 cicin warna pada prinsipnya sama dengan resistor dengan 5 cincin warna dalam menentukan nilai resistansinya. Cincin ke 6 menentukan coefisien temperatur yaitu temperatur maksimum yang diijinkan untuk resistor tersebut.

Kode Huruf Resistor

Resistor dengan kode huruf dapat kita baca nilai resistansinya dengan mudah karenanilia resistansi dituliskan secara langsung. Pad umumnya resistor yang dituliskan dengan kode huruf memiliki urutan penulisan kapasitas daya, nilai resistansi dan toleransi resistor. Kode huruf digunakan untuk penulisan nilai resistansi dan toleransi resistor.

Kode Huruf Untuk Nilai Resistansi :

  • R, berarti x1 (Ohm)
  • K, berarti x1000 (KOhm)
  • M, berarti x 1000000 (MOhm)

Kode Huruf Untuk Nilai Toleransi :

  • F, untuk toleransi 1%
  • G, untuk toleransi 2%
  • J, untuk toleransi 5%
  • K, untuk toleransi 10%
  • M, untuk toleransi 20%

Semoga infonya bermanfaat ya πŸ™‚

Function Generator

Ada yang tau gak apa itu Function Generator?

Function Generator atau Generator Fungsi adalah suatu alat uji elektronik yang mampu menghasilkan atau membangkitkan berbagai bentuk gelombang dimana frekuensi serta amplitudonya dapat diubah-ubah.

Bentuk gelombang yang bisa dihasilkan oleh function generator diantaranya sepert :

Β·    gelombang sinus (Sine Wave),

Β·    gelombang kotak (Square Wave),

Β·    gelombang gigi gergaji (Saw Tooth Wave),

Β·    gelombang segitiga (Triangular Wave) dan

Β·    gelombang pulsa (Pulse).

Fungsi Function Generator:

Generator fungsi digunakan dalam pengembangan, pengujian, dan perbaikan peralatan elektronik. Misalnya, mereka dapat digunakan sebagai sumber sinyal untuk menguji penguat atau untuk memasukkan sinyal kesalahan ke dalam loop kontrol. 

Β·     Function Generator Output, fungsinya buat mendapatkan keluaran (output) bentuk gelombang yang diinginkan.

Β·  Sweep Generator Output, fungsinya buat mendapatkan ayunan (Sweep) bentuk gelombang yang diinginkan.

Β·     Frequency Counter, fungsinya buat mengitung frekuensi.

Jenis –Jenis Function Generator

1.  Generator Fungsi Analog

Function Generator jenis ini adalah Function Generator yang paling pertama dikembangkan yaitu sekitar tahun 1950-an dan pada saat itu, penggunaan teknologi digital masih sangat terbatas. Meski masih memakai teknologi Analog, Function Generator jenis ini mempunyai beberapa kelebihan, yaitu harga yang relatif lebih murah dan cara penggunaannya juga mudah/sederhana.

2. Generator Fungsi Digital

Function Generator jenis ini memanfaatkan Teknologi Digital buat menghasilkan bentuk gelombang. teknik yang paling umum dipakai yaitu teknik Direct Digital Synthesis (Sintesis Digital Langsung) atau DDS. Digital Function Generator ini bisa menghasilkan bentuk gelombang dengan tingkat akurasi dan stabilitas yang tinggi karena rangkaian sistem Pewaktunya (clock) dikendalikan oleh Kristal (Crystal).Digital Funciton Generator juga bisa menghasilkan spektral yang murni (high spectral purity) dan Noise Fase yang rendah (low phase noise).

3. Generator Fungsi Sweep

Function generator jenis ini mempunyai kemampuan Sweep pada Frekuensinya. Umumnya, Sweep Function Generator ini memakai Teknologi Digital, tapi ada juga yang memakai teknologi Analog.

Bagian Bagian Function Generator

Beberapa  tombol/saklar  pengatur  yang  biasanya  terdapat  pada  Generator  Fungsi diantaranya:

Β§     Saklar Daya (Power Switch) : Berfungsi untuk menyalakan daya Generator Fungsi.

Β§  Terminal Output TTL/CMOS : Terminal yang menghasilkan keluaran yang kompatibel dengan TTL/CMOS

Β§     Duty Function : Tarik dan putar tombol ini untuk mengatur Duty Cycle gelombang

Β§  Selector TTL/CMOS : Ketika tombol ini ditekan, terminal output TTL/CMOS akan mengeluarkan gelombang yang kompatibel dengan TTL. Sedangkan jika tombol ini ditarik, maka besarnya tegangan kompatibel output (yang akan keluar dari terminal output TTL/CMOS) dapat diatur antara5-15 Vpp, sesuai besarnya tegangan yang kompatibel dengan CMOS

Β§  DC Offset : Untuk memberikan offset (Tegangan DC) pada sinyal +/- 10V. Tarik dan putar searah jarum jam untuk mendapatkan level tegangan DC positif, atau putar ke arah yang berlawanan untuk mendapat level tegangan DC negatif. Jika tombol ini tidak ditarik, keluaran dari geneartor sinyal adalah murni tegangan AC

Β§  Amplitudo Output : Putar searah jarum jam untuk mendapatkan tegangan output yang maksimal, dan kebalikannya untuk output -20dB. Jika tombol ditarik, maka output akan diperlemah sebesar 20dB.

Β§  Selector Fungsi : Tekan salah satu dari ketiga tombol ini untuk memilih bentuk gelombang output yang diinginkan

Β§     Terminal Output utama : Terminal yang mengeluarkan sinyal output utama

Β§     Tampilan Pencacah : tampilan nilai frekuensi dalam format 6×0,3″

Β§  Selector Range Frekuensi : Tekan tombol yang relevan untuk memilih range frekuensi yang dibutuhkan

Β§  Pelemah 20dB : Tekan tombol ini untuk mendapat output tegangan yang diperlemah sebesar 20dB

Cara pemakaian Function Generator :

Β§     Hidupkan Power Supply

Β§  Sambungkan kabel BNC ke kolektor sesuai dengan yang diinginkan. Misalnya ingin menghasilkan sinyal TTL output maka konektor dihubungkan pada konektor TTL output dan jika untuk sinyal sinusoidal dan segitiga hubungkan pada output 50 Ohm

Β§  Untuk menghasilkan frekuensi gelombang kotak pengaturan yang diinginkan, dan untuk mengatur Dutycycle maka putarlah selector Dutycycle. Sebelum mengaturnya tarik stang selector

Β§  Untuk menghasilkan frekuensi gelombang sinusoidal dan gelombang segitiga maka pengaturan amplitudonya pada selector Amplitudo dan konektor BNC pada output

50 Ohm. Untuk meinigkatkan besar tegangan atau amplitudonya maka tarik stang selector dan aturlah maximal tegangan 15 Volt.

Β§  Untuk menghasilkan frekuensi yang diinginkan maka pilihlah tombol frekuensi yang diinginkan dan selector pengali yang sesuai.

Sebuah function generator adalah bagian dari peralatan tes elektronik atau perangkat yang digunakan sebagai pembangkit berbagai jenis gelombang listrik melalui berbagai frekuensi. Bentuk gelombang dapat berulang-ulang atau single shot. Dalam hal beberapa jenis sumber pemicu diperlukan (Internal maupun ekstrenal) Biasanya Generator Fungsi menghasilkan gelombang yang dihasilkan oleh berulang pengisian dan pemakaian kapasitor.

Function Generator yang digunakan dalam pengembangan, pengujian, dan perbaikan alat elektronik, misalnya sebagai sumber sinyal untuk menguji amplifier, atau untuk memperkenalkan sinyal kesalahan ke loop kendali. Beberapa yang pailng umum bentuk gelombang yang dihasilkan oleh Function Generator adalah gelombang sinus, persegi, segitiga, dan gigi gergaji waveforms.

Semoga infonya bermanfaat ya πŸ™‚

Osiloskop

Salah satu alat penting nih yang ada di jurusan elektro!

Osiloskop yaitu alat ukur elektronika yang bisa memetakan atau memproyeksikan sinyal listrik dan frekuensi jadi gambar grafik, supaya bisa dibaca dam mudah dipelajari. Dengan Osiloskop, kita bisa mengamati dan menganalisa bentuk gelombang dari sinyal listrik atau frekuensi dalam suatu rangkaian elektronika.Umumnya, Osiloskop bisa menampilkan grafik dua dimensi (2D) dengan waktu pada sumbu X dan tegangan pada sumbu Y.Osiloskop banyak sekali dipakai pada industri-industri seperti penelitian, sains, engineering, medikal dan telekomunikasi.

A.Fungsi Osiloskop

Fungsi osiloskop adalah untuk menampilkan sinyal dalam bentuk grafik gelombang sinyal pada layar termasuk amplitude (tegangan) dan frekuensinya.Berbeda dengan alat ukur lainnya misalnya DMM (digital multimeter) hanya bisa melihat besaran tegangan saja,pada osiloskop bisa menampilkan bentuk sinyal yang menampilkan satuan waktu dalam bentuk horizontal (X-axis) dan satuan amplitude/tegangan dalam bentuk vertical (Y-axis).

B. Fungsi Osiloskop:

  1. Untuk menyelidiki gejala yang bersifat periodik
  2. Untuk melihat bentuk gelombang kotak dari tegangan
  3. Untuk menganalisis gelombang dan fenomena lain dalam rangkaian elektronika
  4. Bisa melihat amplitudo tegangan, periode, frekuensi dari sinyal yang tidak diketahui
  5. Untuk melihat harga – harga momen tegangan dalam bentuk sinus ataupun bukan sinus
  6. Dipakai untuk menganalisa tingkah laku besaran yang berubah – ubah terhadap waktu, yang ditampilkan pada layar
  7. Mengetahui beda fasa antara sinyal masukan dan sinyal keluaran.
  8. Mengukur keadaan perubahan aliran (phase) dari sinyal input
  9. Mengukur Amplitudo Modulasi yang dihasilkan oleh pemancar radio dan generator  pembangkit sinyal
  10. Mengukur tegangan AC/DC dan menghitung frekuensi.

C. Jenis-jenis Osiloskop:

1. Osiloskop Tabung Kaca

Osiloskop jenis tabung kaca tersebut layarnya terbuat dari tabung CRT (Cathode Ray Tube) dan Osiloskop jenis ini sering dikenal/dibilang sebagai Osiloskop Analog.Osiloskop ini merupakan pengembangan dari osiloskop yang paling pertama dikembangkan dan osiloskop ini mempunyai respon terhadap signal lebih cepat, dibandingkan dengan osiloskop digital.

2. Osiloskop LCD

Osiloskop ini merupakan osiloskop yang lebih maju dan udah memakai layar LCD yang lebih ringan dan Osiloskop tersebut lebih dikenal dengan Osiloskop Digital.Kelebihan osiloskop digital yaitu kemampuannya dalam menentukan bandwidth yang lebih fleksibel.Osiloskop jenis digital atau LCD ini bisa dibagi secara spesifik menjadi 4 macam, diantaranya yaitu:

  1. Osiloskop Sampling Digital
  2. Osiloskop Portabel
  3. Osiloskop Berbasis Komputer (PC)
  4. Osiloskop Signal Campuran.

D. Bagian-bagian Osiloskop:

  1. Volt atau div fungsinya buat mengeluarkan tegangan AC.
  2. CH1 (Input X) fungsinya buat memasukkan sinyal atau gelombang yang diukur atau pembacaan posisi horisontal.
  3. AC-DC fungsinya buat memilih besaran yang diukur.
  4. Ground fungsinya buat memilih besaran yang diukur.
  5. Posisi Y fungsinya buat mengatur posisi garis atau tampilan dilayar atas bawah.
  6. Variabel fungsinya buat kalibrasi osiloskop.
  7. Selektor pilih fungsinya buat memilih Channel yang diperlukan untuk pengukuran.
  8. Layar fungsinya buat menampilkan bentuk gelombang.
  9. Inten fungsinya buat mengatur cerah atau tidaknya sinar pada layar Osiloskop.
  10. Rotatin fungsinya buat mengatur posisi garis pada layar.
  11. Fokus fungsinya buat menajamkan garis pada layar.
  12. Position X fungsinya buat mengatur posisi garis atau tampilan kiri dan kanan.
  13. Sweep time/ div dipakai buat mengatur waktu periode (T) dan Frekwensi ( f ).
  14. Mode fungsinya buat memilih mode yang ada.
  15. Variabel fungsinya buat kalibrasi waktu periode dan frekuensi.
  16. Level fungsinya buat menghentikan gerak tampilan layar.
  17. Exi Trigger fungsinya buat trigger dari luar.
  18. Power fungsinya buat menghidupkan Osiloskop.
  19. Cal 0,5 Vp-p fungsinya buat kalibrasi awal sebelum Osciloskop dipakai.
  20. Ground Osiloskop yang dihubungkan dengan ground yang diukur.
  21. CH2 ( input Y ) fungsinya buat memasukkan sinyal atau gelombang yang diukur atau pembacaan Vertikal.

F. Cara Kerja Osiloskop

Komponen utama Osiloskop yaitu tabung sinar katoda ( CRT ). Prinsip kerja tabung sinar katoda yaitu Elektron dipancarkan dari katoda akan menumbuk bidang gambar yang dilapisi oleh zat yang bersifat flourecent. Bidang gambar ini berfungsi sebagai anoda. Arah gerak elektron ini bisa dipengaruhi oleh medan listrik dan medan magnetik.Umumnya, Osiloskop sinar katoda mengandung medan gaya listrik untuk mempengaruhi gerak elektron kearah anoda. Medan listrik dihasilkan oleh lempeng kapasitor yang dipasang secara vertikal, maka akan terbentuk garis lurus vertikal dinding gambar. Kemudian, kalo pada lempeng horizontal dipasang tegangan periodik, maka elektron yang pada mulanya bergerak secara vertikal, kini juga bergerak secara horizontal dengan laju tetap. Jadi, pada gambar terbentuk grafik sinusoidal. Sebuah benda bergetar sekaligus secara harmonik, getaran harmonik (super  posisi) yang berfrekuensi dan mempunyai arah getar sama akan menghasilkan satu getaran harmonik baru berfrekuensi sama dengan amplitudo dan fase tergantung pada amplitudo dan frekuensi setiap bagian getaran harmonik tersebut. Hal itu berdasarkan metode penambahan trigonometri atau lebih sederhananya lagi dengan memakai bilangan kompleks. Kalau 2 getaran harmonik super posisi yang beda, frekuensi terjadi getaran yang gak lagi periodik.Basis waktu secara periodik menggerakkan bintik cahaya dari kiri kekananmelalui permukaan layar. Tegangan yang akan diperiksa dimasukkan ke Y atau masukan vertikal osiloskop, menggerakkan bintik keatas dan kebawah sesuai dengan nilai tegangan yang dimasukkan. Lalu, bintik tersebut menghasilkan jejak berkas gambar pada layar yang menunjukkan variasi tegangan masukan sebagai fungsi dari waktu. Kalo tegangan masukan berkurang dengan laju yang cukup pesat, gambar akan kelihatan sebagai sebuah pola yang diam pada layar.

G. Cara Mengkalibrasi Osiloskop

Cara mengkalibrasi sebuah Osiloskop yang akan dipakai buat mengukur sebuah tegangan, maka kamu harus perhatikan caranya beikut ini.

Cara Pertama

Yang harus kamu lakukan yaitu pengkalibrasian. Setelah kamu mengkoneksikan Osiloskop ke jaringan listrik dan menyalakan. Lalu, kamu amati pada layar monitor yang tampak dilayar yaitu harus garis lurus mendatar (kalo gak ada sinyal masukkan).

Cara Kedua

Kemudian kamu atur fokus, intensitas, kemiringan, position X dan position Y. Dengan mengatur posisi tersebut, kamu nantinya bisa mengamati hasil pengukuran dengan jelas dan akan mendapat hasil pengukuran dengan teliti.

Cara Ketiga

Lalu, pakai tegangan referensi yang ada di Osiloskop, maka kamu bisa melakukan pengkalibrasiaan sederhana.Ada 2 tegangan referensi yang bisa dijadikan acuan, yaitu tegangan persegi 2 Vpp dan 0.2 Vpp dengan frekuensi 1 KHz.

Cara Keempat

Selanjutnya, kamu tempelkan probe pada terminal tegangan acuan, maka pada layar monitor akan muncul tegangan persegi.

Jika yang dijadikan acuan adalah tegangan 2 Vpp, maka pada posisi 1 Volt/div (satu kotak vertikal mewakili tegangan 1 volt) harus ada nilai tegangan dari puncak ke puncak sebanyak 2 kotak dan buat time/div1/ms/div (satu kotak horizontal mewakili waktu 1 ms) harus ada satu gelombang buat satu kotak.Apabila yang tampak pada layar belum tepat, maka perlu diatur pada potensio tengah di knob Volt/div atau pada potensio dengan label.

Semoga infonya bermanfaat ya πŸ™‚

Spectrum Analyzer

Apa itu Spectrum Analyzer?

Spektrum Analizer (SA) adalah perangkat yang digunakan untuk penyelidikan distribusi energi sepanjang spektrum frekuensi dari sebuah sinyal listrik yang diketahui. Berbeda dengan osiloskop, SA akan menggambar sinyal pada domain frekuensi. Dimana sumbu horizontal merepresentasikan frekuensi dan sumbu vertikal merepresentasikan Amplitudo sinyal.

Fungsi Spektrum Analizer

  1. Mengukur amplitudo dan frekuensi dari sinyal RFI yang dihasilkan oleh perangkat wireless atau alat elektrik
  2. Mengevaluasi hasil dari penyaringan frekuensi 
  3. Sebagain acuan informasi menghapus sebuah daerah bagi frequensi yang tidak dikehendaki.
  4. Memeriksa sinyal satelit TV dan subcarriernya (jika ingin tahu sinyal rahasianya)
  5. Mengidentifikasi mode modulasi seperti AM, FM, SSB, FSK, PCM dan yang lainnya
  6. Tracking sinyal pemancar dan penerima, memeriksa penguatan tiap tingkat ketika pembangunan, pemeriksaan kesalahan,dan pengetesan harmonisa dan distorsi modulasi
  7. Memeriksa kondisi keluaran β€˜pancaran’ pemancar
  8. Mengukur Bandwidth sinyal

Sebuah Spectrum Analyzer memiliki fitur-fitur tertentu yang digunakan untuk menganalisa spektrum dari sebuah sinyal. Fitur-fitur tersebut adalah sebagai berikut :

  • Mampu mengatur nilai maksimum dan minimum frekuensi yang ditampilkan. Serta memilih nilai frekuensi tengah.
  • Fitur span untuk mengatur panjang frekuensi yang ditampilkan pada layar.
  • Ada fitur max hold, agar untuk mengatur kecepatan spektrum (agar lebih mudah diamati)
  • Fitur titik marker, digunakan untuk mengamati level dari frekuensi dan mengetahui lebar pita (Bandwith) spektrum.
  • Dapat menyimpan data dari spektrum (baik itu dalam bentuk gambar atau file) dan disimpan dalam USB.
  • Pada Spectrum Analyzer modern dapat terhubung internet dan ada GPS untuk berkomunikasi dengan satelit dan menampilkan peta lokasi.

Semoga info ini bermanfaat ya πŸ™‚

Multimeter

Anak elektro pasti udah hapal dong sama salah satu alat ini. Multimeter merupakan alat wajib yang dimiliki oleh anak elektro.

Multimeter atau multitester adalah alat pengukur listrik yang sering dikenal sebagai VOM (Volt-Ohm meter) yang dapat mengukur tegangan (voltmeter), hambatan (ohm-meter), maupun arus (amperemeter). Ada dua jenis multimeter: multimeter digital atau DMM (digital multi-meter)(untuk yang baru dan lebih akurat hasil pengukurannya), dan multimeter analog. Masing-masing kategori dapat mengukur listrik AC, maupun listrik DC. Sebuah multimeter merupakan perangkat genggam yang berguna untuk menemukan kesalahan dan pekerjaan lapangan, maupun perangkat yang dapat mengukur dengan derajat ketepatan yang sangat tinggi.

Berikut ini, ada beberapa fungsi dari multimeter atau AVO meter yang perlu kamu ketahui nih, diantaranya yaitu:

1. Mengukur Arus Listrik

Fungsi utama pada AVO meter yaitu mengukur arus listrik. Ada 2 jenis Ampere yang ada disebuah alat ukur yaitu arus AC (Alternating Current) dan arus DC (Direct Current). Buat menghindari kerusakan yang terjadi, maka dihimbau buat memperhatikan arus listrik yang akan kamu ukur dan jangan sampai diluar jangkauan batas ukur maksimal.

2. Mengukur Tegangan Listrik

Fungsi AVO meter berikutnya adalah mengukur tegangan listrik atau tingkat Voltase dari sebuah komponen listrik. Disetiap Multimeter/AVO meter ini ada saklar selector yang berfungsi buat menentukan batas ukur maksimum. Makanya, kamu prediksi dulu level tegangan listrik dari sebuah rangkaian listrik yang akan kamu ukur.

3. Mengukur Hambatan Listrik

Fungsi Multimeter/AVO meter selanjutnya yaitu mengukur tingkat hambatan atau resistansi dari suatu komponen listrik atau resistor yang mempunyai unsur resistansi. Penting, disini kamu harus memperhatikan batas ukur resistansi sebuah komponen listrik yang akan kamu pakai.

4. Fungsi HFE

Gak semua alat ukur mempunyai fungsi Hfe. Fungsi Hfe ini dipakai buat mengetahui nilai dari faktor penguatan transistor. Fungsi Hfe ini biasanya dipakai buat mengukur penguatan transistor yang ada pada tipe NPN dan PNP.

5. Mengukur Nilai Kapasitansi

Fungsi lain yang belum tentu ada pada setiap multimeter/AVOmeter yaitu mengukur nilai kapasitansi dari suatu kapasitor. Baik pada tipe Analog ataupun Digital. Keduanya mempunyai batas ukur tingkat resistansi yang harus diperhatikan.

6. Mengukur Frekuensi Sinyal

Fungsi yang terakhir dari sebuah Multimeter/AVO meter yaitu buat mengetahui nilai frekuensi dari suatu isyarat atau sinyal pada komponen elektronika.

Bagian-bagian Multimeter

Cara Menggunakan Multimeter

  • Pertama, kamu perhatikan dulu, jarum penunjuk yang memperlihatkan skala pengukuran.
  • Perhatikan juga pengaturan knob atau saklar yang dipakai buat mengatur fungsi Ampere, Voltage, ataupun Ohm.
  • Lalu, lakukan setting juga pada skala x1, x10 atau yang lainnya dan pastikan knob pada posisi Off saat udah gak dipakai lagi.
  • Tentukan lubang buat memasukkan kabel jack sesuai dengan fungsi yang diinginkan. Ada dua lubang yaitu (+) dan (-) yang nantinya menunjukkan polaritas dari tegangan atau probe.
  • Kemudian, kamu cek kembali apakah baterai udah terpasang dengan baik. Pastikan kondisi baterai tersebut masih bagus dan berkualitas.

Ada beberapa hal, yang perlu kamu perhatikan saat menggunakan fungsi Ampere, Voltage, atau Ohm yaitu:

  • Saat mengukur arus (Ampere), pastikan saklar pada posisi DCA. Putar saklar selector pada posisi atau skala di atas arus yang diukur. Hal ini buat menghindari kerusakan sekring, pastikan Power Suplay terhubung ke beban dan silakan baca hasil pengukuran di layar display.
  • Buat mengukur Tegangan, pastikan saklar berada di posisi AVC dan pilih skala pengukuran yang tepat. Kalo gak mengetahui nilai tegangan yang akan diukur, sebaiknya memilih skala tertinggi untuk menghindari kerusakan. Terakhir hubungkan Probe ke dalam terminal yang akan diukur. Silakan baca hasilnya di display.
  • Pada saat mengukur Hambatan (Ohm), pastikan saklar di posisi tersebut. Lalu pilih skala yang diukur. Hubungkan Probe ke dalam komponen Resistor dan bacalah hasilnya di display.

Semoga infonya bermanfaat yaa πŸ™‚

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai